Kisah Siti Aisyah Istri Tercinta Rasulullah SAW

kisah siti aisyah

Kisah Siti Aisyah – Siti Aisyah adalah putri sahabat Rasulullah Saw, Abu Bakar. Dia adalah seorang perempuan yang sangat cerdas dan termasuk ke dalam golongan perawi hadits yang paling banyak. Selain itu, Aisyah juga pandai dalam ilmu faraidh dan obat-obatan. Aisyah meninggal pada usia 66 tahun.

Siti Aisyah menikah dengan Rasulullah Saw pada usia 7 tahun. Setelah Khadijah, Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah Saw. Saat meninggal, Rasulullah Saw meninggal di pangkuan Aisyah. Sepeninggal beliau, Aisyah tetap mengajarkan Al-Quran dan hadits kepada para sahabat.

Silsilah Keluarga Aisyah

Dengan menyandang gelar ash-Shiddiqah, Siti Aisyah menjadi wanita yang santun. Wanita santun ini sering dipanggilan dengan Ummu Mukminin. Terkadang Aisyah juga dijuluki Humaira’. Namun Rasulullah mempunyai panggilan yang berbeda untuk Aisyah, yaitu Binti ash-Shidiq.

Ayah Aisyah bernama Abdullah, namun lebih dikenal dengan julukannya Abu Bakar. Sementara itu, ibu Aisyah bernama Ummu Ruman. Aisyah berasal dari Suku Quraisy kiblah Taimi di pihak ayah, sedangkan kabulah Kinanah di pihak ibunya.

Wanita santun ini lahir pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijriah. Lahirnya Aisyah bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 Masehi, yakni akhir tahun ke-5 kenabian. Saat itu, tidak ada satu keluarga muslim pun yang menyamai keluarga Abu Bakar Shidiq dalam hal jihad dan pengorbanan demi menyebarkan agama islam.

Rumah Abu Bakar kala itu menjadi tempat yang penuh dengan berkah. Tempat tinggalnya mempunyai makna tertinggi kebahagiaan, kemuliaan, kesucian, dan kehormatan. Di rumah Abu Bakar Sidiq, cahaya mentari Islam pertama terpancar dengan terang.

Kecantikan Siti Aisyah R.a

Dari perkembangan fisiknya, Aisyah termasuk perempuan yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cepat. Aisyah bisa dikatakan sebagai wanita yang mempunyai paras elok, cantik, dan berkulit putih. Oleh karena itulah Aisyah dikenal dengan julukan Humaira’. Humaira bisa diartikan adalah pipi yang kemerah-merahan. Aisyah juga termasuk perempuan yang manis, mempunyai mata besar, rambut keriting, tubuhnya langsing, dan wajah cerah.

Baca Juga  Kakak Ipar dan Adik Ipar, Apakah Termasuk Mahram?

Tanda-tanda ketinggian derajat dan kebahagiaan telah tampak sejak Aisyah kecil. Ketinggian derajat dan kebahagiaan sudah terlihat dari perilaku dan gerak-geriknya. Namun, seorang anak kecil tetaplah seperti anak kecil pada umumnya. Aisyah saat masih kecil suka bermain-main. Meski masih kecil, Aisyah tidak lupa tetap menjaga etika dan adab sopan santun di setiap kesempatan.

Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah SAW

Penikahan Aisyah dengan rasulullah merupakan perintah langsung dari Allah, sesudah Siti Khadijah wafat. Setelah dua tahun wafatnya Khadijah, turunlah wahyu kepada Rasulullah untuk menikahi Aisyah. Rasulullah segera mendatangi Abu Bakar dan istrinya, untuk meminta izin menikahi Aisyah. Mendengar lamaran rasulullah, Abu Bakar dan istri merasa sangat senang. Kedua orangtua Aisyah langsung memanggil Aisyah dan menyuruhnya menemui Rasulullah.

Pernikahan Siti Aisyah dan rasulullah terjadi di Mekkah, sebelum akhirnya hijrah pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Ketika dinikahi oleh Rasulullah, usia Aisyah bisa dikatakan masih sangat belia. Aisyah menikah dengan Rasulullah ketika berumur 6 tahun. Di antara istri-istri Rasulullah, hanya Aisyah yang dinikahi dalam keadaan masih belia.

Sebenarnya, tujuan inti dari pernikahan dini ini ialah memperkuat hubungan, mempererat ikatan kekhalifahan, dan mempererat ikatan kenabian. Pada saat itu, cuaca panas yang bisa dialami Bangsa Arab dinegerinya, menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan fisik anak perempuan menjadi pesat di satu sisi. Di sisi lainnya, pada sosok pria yang menonjol dalam hal berbakat khusus dan mempunyai potensi luar biasa mengembangkan kemampuan otak dan pikiran

Pada waktu itu, Aisyah masih berusia sangat dini, sehingganya dilangsungkan prosesi akad nikah, sedangkan perkawinan baru akan dilangsungkan dua tahun kemudian. Selama jangka waktu tersebut, Aisyah dan Rasulullah belum bisa bersama. Bahkan, Rasulullah masih memberikan kebebasan pada Aisyah untuk bermain dengan teman-temannya

Kemudian, ketika usia Aisyah beranjak 9 tahun, Rasulullah menyempurnakan pernikahannya dengan Aisyah. Dalam pernikahan tersebut, Rasulullah memberikan maskawin 500 dirham. Setelah prosesi pernikahan selesai, Aisyah mulai memasuki masa rumah tangga dengan rasulullah.

Baca Juga  Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

Pernikahan wanita yang santun tersebut dilangsungkan secara sederhana, jauh dari kesan mewah atau hura-hura. Tentu saja pernikahan ini mengandung teladan yang baik dan contoh bagus bagi seluruh muslimah. Di dalam kesederhanaan tersebut terkandung hikmah dan nasehat bagi para muslimah yang menganggap pernikahan sebagai problema saat ini.

Sebagian muslimah mungkin ada yang beranggapan bahwa acara pernikahan hanya menjadi symbol kemubaziran dan hura-hura untuk memenuhi kehendak berlebihan. Padahal dalam kenyataannya, pernikahan juga bisa diselenggarakan dengan sederhana, namun menyimpan hikmah sangat bermakna.

Sebagai istri Rasulullah, Aisyah termasuk istri yang sholehah. Aisyah menjadi pendamping yang senantiasa memberikan dorongan dan motivasi kepada suami tercinta, di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan kaumnya. Selain itu, Aisyah juga menjadi seorang penuntut ilmu yang selalu belajar dalam madrasah nubuwwah. Di madarasah tersebut, Aisyah menimba ilmu langsung dari sumbernya.

kisah siti aisyah ra
ilustrasi

Di mata Rasulullah, Aisyah merupakan wanita paling alim yang pernah dikenalnya. Bahkan bisa dikatakan Aisyah merupakan istri Rasulullah yang paling beruntung. Rasulullah selalu memanjakan istri-istrinya dengan adil, termasuk Aisyah. Rasulullah selalu senang berada di pangkuan Aisyah. Saat ajal menjemput, Rasulullah berada dalam dekapan Aisyah.

Tidak bisa dipungkri, Aisyah menjadi contoh teladan yang paling baik bagi wanita muslimah lainnya, baik dari sifat, sikap, maupun perbuatannya. Mulai dari berbakti kepada kedua orangtua, gemar menolong, istri yang sholehah, sampai dengan selalu berbuat baik kepada semua orang.

Wafatnya Aisyah
Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Aisyah wafat pada usia 66 tahun karena sakit. Wafatnya Aisyah bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah. Aisyah dimakamkan di Baqi’. Jenazah wanita santun ini langsung dimakamkan pada malam itu juga (malam Selasa tanggal 17 Ramadhan. Pemakamannya dilakukan setelah shalat witir.

Baca Juga  Lirik Lagu Aisyah Humairah Istri Rasulullah

Ketika itu, Abu Hurairah datang lalu menshalati jenazah wanita santun ini. Kemudian orang-orang ikut berkumpul dan para penduduk di kawasan atas pun turun untuk melayat. Tidak ada seorang pun yang meninggal dunia dilayat oleh sekian banyak orang melebihi pelayat kematian Aisyah. Rasanya hal ini wajar, karena semasa hidupnya Aisyah dikenal sebagai wanita yang selalu menjaga etika dan adab sopan santun kepada semua orang.

Mutiara Keteladanan dari Siti Aisyah
Aisyah yang dikenal sebagai wanita santun mempunyai beberapa keteladanan. Keteladanan tersebut dicerminkan dalam sikap dan gerak-geriknya. Pertama, perlakuan baik seorang istri akan membekas pada diri suami. Hal itulah yang akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami. Perlakuan baik sang istri akan selalu dikenang suami sampai ajal menjemput sang istri.

Kedua, hendaklah para wanita menjaga kesucian dan mahkotanya. Hal ini dikarenakan keelokan dan kecantikan itu merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, sebagai wanita harus senantiasa menjaga keduanya dari orang lain, kecuali kepada yang berhak atasnya, yaitu suami.

Ketiga, hendaklah para istri belajar dan mencontoh keshalihan suaminya. Istri pada hakikatnya merupakan pemimpin yang mempunyai tanggung jawab besar untuk mendidik akhlak anak. Hal ini dikarenakan, sang ibu berperan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak.

Ya, memang wanita mempunyai beban berat dalam mendidik akhlak sang anak. Anak akan menjadi sholeh dan sholehah, bila dibimbing oleh sang ibu dengan benar. Sebaliknya, anak akan membangkang dan kurang ajar, bila dibimbing oleh sang ibu salah. Untuk itu, sebagai seorang wanita harus pandai dalam menjaga sikap maupun tutur kata. Sikap dan tutur kata yang baik, tentu menjadi contoh baik dalam perkembangan sang anak.

Demikianlah artikel seputar Kisah Siti Aisyah. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *